You are here: Home / Domestik / Sulawesi Utara / Kemeriahan Festival Bunaken dan Danau Tondano di Sulawesi Utara
Kemeriahan Festival Bunaken dan Danau Tondano di Sulawesi Utara

Kemeriahan Festival Bunaken dan Danau Tondano di Sulawesi Utara

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Ingin liburan? Dapatkan harga special travel dan hotel disini!!
Pemerintah Daerah Sulawesi Utara memiliki program penunjang pariwisata yang unik, kreatif dan mendidik generasi muda. Nama acara tersebut Festival Bunaken dan Danau TondanoKeunikan Pariwisata Sulawesi Utara. Baca selengkapnya ... » dan telah diselenggarakan secara rutin sejak tahun 1996. Majalah Kartini menulis biaya pelaksanaan event wisata pertama tahun 1996 di Sulawesi Utara ini mencapai Rp 4 milyar.

Festival yang menghabiskan biaya milyaran rupiah tersebut membuat masyarakat setempat bangga. Ratusan kembang api yang indah didatangkan dari Perancis. Koreografer legendaris Sentot P pernah dipercaya menyiapkan acara pembukaan yang meriah untuk Festival Bunaken dan Danau Tondano. Hal tersebut menjadi salah satu daya tarik utama tempat wisata di Sulawesi Utara.

 

Danau Tondano - Tempat Wisata di Sulawesi Utara

Danau Tondano - Tempat Wisata di Sulawesi Utara

 

Legenda Asal Usul Danau Tondano

Lokasi Festival Bunaken dan Danau Tondano, disingkat sebagai Festival Budaton, terletak di tepi Danau Tondano. Danau Tondano sendiri berada pada arah 40 km di selatan kota Manado, ibukota provinsi Sulawesi Utara. Danau Tondano memiliki legenda tersendiri yang menceritakan kisah Katimboi dan Makatimbo, dua kakak beradik yang saling mencinta dan berniat menikah padahal adat tidak mengizinkan perkawinan sedarah.

Setelah mufakat, kedua kakak beradik ini melarikan diri dari rumah. Ketika orang tua mereka menemukan keberadaan sepasang kekasih yang masih bersaudara ini, maka terjadinya bencana alam yang dahsyat. Konon katanya terjadi gunung meletus dan banjir besar melanda daerah tersebut. Akibat dari bencana dahsyat tersebut maka terbentuklah Danau Tondano yang memiliki area seluas 3.000 hektar.

Kisah Katimboi dan Makatimbo ini menjadi salah satu pertunjukan utama yang digelar pada Festival Bunaken dan Danau Tondano. Sambutan masyarakat dan wisatawan yang datang sangat baik. Mereka pada umumnya sangat terkesan oleh kekayaan budaya Minahasa yang ditampilkan dalam Festival Bunaken dan Danau Tondano tersebut.

Ragam Budaya Festival Bunaken dan Danau Tondano

Festival Bunaken dan Danau Tondano biasanya berlangsung pada akhir tahun, sekitar bulan Oktober, November dan Desember. Festival Bunaken dan Danau Tondano menyajikan 12 legenda yang berasal dari 4 etnik di Sulawesi Utara, yaitu Bolaang Mongondow, Sagir-Talaud, Gorontalo, dan Minahasa.

Meskipun Gorontalo saat ini melepaskan diri dari provinsi Sulawesi utara dan menjadi provinsi baru, budaya Gorontalo tetap dianggap sebagai bagian dari Festival Bunaken dan Danau Tondano. Oleh karena itu, etnik Gorontalo menjadi pendukung bagi setiap penyelenggaraan Festival Bunaken dan Danau Tondano.

Diantara legenda yang ditampilkan dalam Festival Bunaken dan Danau Tondano, Bolaang Mongondow menampilkan Legenda Putri Silagondo, Bantong dan Ojotang, Log dan Tupa. Sedangkan budaya masyarakat Gorontalo diwakili oleh penampilan Legenda Ingalo, Sri Ardi, Pomontholo, Tiilaya dan Nthobango.

Tidak mau kalah dengan yang lain, masyarakat Sangir-Talaud menampilkan Legenda Benteng Wetenan dan Tembo. Sedangkan dari Minahasa ditampilkan Legenda Makasambur, Kombangen, Tangkudung dan Kataouk. Pertunjukan yang menjadi primadona dalam Festival Bunaken dan Danau Tondano tentu saja Legenda Katimboi dan Makatimbo.

 

Kemeriahan Festival Bunaken dan Danau Tondano di Sulawesi Utara

Kemeriahan Festival Bunaken dan Danau Tondano di Sulawesi Utara

 

Kemeriahan Festival Bunaken dan Danau Tondano

Pada waktu Festival Bunaken dan Danau Tondano berada dibawah arahan koreografer Sentot P, pagelaran seni budaya ditampilkan terdiri dari tiga paket acara, yaitu Bangga dan Legenda, Taman Nyiur Melambai, dan Taman Cipta. Penampilan ratusan pemusik bambu seng dan klarinet, musik bia, kolintang, dan penari perang Cakalele merupakan bagian dari pertunjukan Bangga dan Legenda.

Panglima perang dari penari Cakalele meneriakkan semboyan rakyat Minahasa ‘Pakutuan uo pakalawiran’ pada penutupan seni pertunjukan tari. Arti semboyan tersebut adalah ‘semoga Tuhan memberkati dan panjang umur bagi rakyat Sulawesi Utara’. Semboyan tersebut menjadi semangat bagi setiap warga setempat dalam mendukung iklim pariwisata di Sulawesi Utara.

Setelah itu, tibalah saatnya pertunjukan Taman Nyiur Melambai. Pada bagian ini disajikan karya bahan-bahan yang berasal dari kayu kelapa, pameran seni rupa, nada dan irama serta pameran industri rakyat. Dan bagian yang terakhir dari Festival Bunaken dan Danau Tondano adalah pagelaran Taman Cipta. Taman Cipta menampilkan anak-anak dan remaja melalui lomba gambar, seni lukis dan tarian.

Selain acara seni dan budaya, Festival Bunaken dan Danau Tondano juga mengadakan rangkaian lomba lainnya. Dalam bidang olahraga, diadakan lomba dayung, lomba perahu kano, pacuan kereta kuda, dan pacuan pedati. Festival Bunaken dan Danau Tondano juga menampilkan upacara perang adat dan berbagai pertunjukan khas yang dilakukan para pelajar di provinsi Sulawesi Utara. Tak ketinggalan, mereka mempertunjukkan kebolehan dalam memainkan alat musik yang terbuat dari bambu.

Ayo cintai kekayaan budaya Indonesia!

About Agus Siswoyo

I like traveling around Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

HTML tags are not allowed.

Mau Cari Hotel di Yogyakarta?
Scroll To Top
Anda mungkin juga sukaclose